Haruskah Sajak Ini Kuberi Nama

Meninggalkan

jika ada hal-hal yang layak dipungut kembali, itu adalah kenangan. kenangan seperti seekor anjing, begitu setia. engkau boleh mengepak pakaian dan mengirim kopermu ke kota-kota lain, naik kereta dan memotong sebagian senja untuk oleh-oleh kekasih simpanan. kenangan akan menunggu. hujan turun di tengah kota dan kemacetan. ciuman-ciuman boleh terjadi, namun kenangan akan setia.

jika ada hal-hal yang layak dipungut kembali selain hangat senja, derit rel kereta, basah hujan, riuh kemacetan, dan suara-suara kecupan, itu adalah kenangan yang engkau tinggalkan setelah bertahun-tahun engkau rawat dan besarkan dengan duka cinta.

2014

 

Puisi ini saya bacakan di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) ke-26, 06/09/14.

Advertisements

Pulang Kampung

jika aku tidak lagi menunggu, pergilah. kepergian adalah hal paling mudah. kota tempat engkau lahir tak lagi mengenalmu. kota telah tumbuh dewasa menjadi pekerja harian. sementara engkau masih belum menemukan jalan keluar dari keceriaan kanak-kanak. sekolahmu tak berubah, masih renta dan menolak bersolek. ia tahu kematian tak lama lagi, karena membangun adalah pilihan. negaramu memilih tidur di hari minggu dan hari-hari lainnya, menolak bermimpi tentang sekolahmu. teman-teman kecilmu belajar menulis nama lengkap kekasih tetapi guru-guru memarahi mereka dan melempari dengan kapur (beberapa menghabisi kaki-kaki imajinasi mereka dengan ceramah perihal masa depan). mungkin sudah saatnya engkau pergi, mencari kota yang lain lagi dan menganggapnya tempat engkau lahir. seperti engkau tahu, duhai pengembara, kota tidak pernah menunggu.

2014

 

Puisi ini saya bacakan di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) ke-26, 06/09/14.

Menyapa

apa kabar? masa remaja lahir lewat layar sentuh. kata-kata hanya bit-bit digital, mudah dihapus dan disesuaikan. orang-orang semakin akrab dengan kepalsuan dan hal-hal semu. apa kabarmu? sekarang nama adalah cara menyembunyikan diri sendiri. semakin khawatir kekasih gelap akan menguntit atau merusak rencana-rencana manis dengan kekasih lain. jarak adalah musuh dan juga teman. ciuman cukup disampaikan lewat pesan singkat (pelukan lewat suara sekadarnya). apa kabar? kenangan menjadi bukan rahasia dan dijual dalam pameran. orang-orang gemar memamerkan apa saja: luka, sepi, darah, topeng, seluruhnya kecuali keinginan melihat pameran orang lain.

apa kabarmu?

2014

 

Puisi ini saya bacakan di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) ke-26, 06/09/14.

Tafsir

biarkan aku tenggelam dalam basahmu
meski hanya tetes, bukan dalam telurmu
yang enggan tetas, bukan di sudut-sudut
jubahmu. seluruhnya di sana menjadi beku

(waktu teramat dingin, sebab itu orang-orang
menghangatkan diri dengan membunuh waktu
dan meminum darahnya, darah waktu)

biarkan aku mengapung dalam firmanmu
jangan terjemahkan aku ke dalam sajak-sajak
orang-orang membunuh ayat-ayat, namun
ayat-ayat tak berdarah. tak ada bisa diminum
dari ayat-ayat. biarkan aku tuntas menuju
tunas-tunasmu. agar aku tumbuh bersama
luka-dukamu.
2014

 

Puisi ini saya bacakan di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) ke-26, 06/09/14.

Membaca Sajak

di atas danau

bayang-bayang bulan separuh

riak-riaknya adalah

airmatamu jatuh

apakah masih sajak

jika seluruhnya

gelap

belaka

tanpa cahaya

apakah masih sajak

kata-kata yang cuma samar

bersembunyi dari tafsir-tafsir

seumpama sepasang mata

melihat bayang-bayang bulan

barangkali sajak, di matamu

hanya terbaca

pantulannya

 

2014

 

Puisi ini saya bacakan di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) ke-26, 06/09/14.

Puisi-Puisi di Indo Pos, 23/08/2014

Screen Shot 2014-08-24 at 12.37.14 PM

Screen Shot 2014-08-24 at 12.36.49 PM

Screen Shot 2014-08-24 at 12.37.05 PM

 

Screen Shot 2014-08-24 at 12.36.14 PM

 

Screen Shot 2014-08-24 at 12.37.24 PM

Screen Shot 2014-08-24 at 12.35.20 PM

Screen Shot 2014-08-24 at 12.35.06 PM

 

Screen Shot 2014-08-24 at 12.34.59 PM

 

Screen Shot 2014-08-24 at 12.34.47 PM

 

Screen Shot 2014-08-24 at 12.34.33 PM

 

Duduk di Depan Minimarket Pukul Lima Pagi

aku sedang menunggu diriku yang datang dari masa lalu, dan dia membawa luka dari masa depan untukku, dan dia datang sambil tersenyum dan menyerahkan luka itu dalam kado berpita hijau, dan katanya hijau tidak ada lagi di kota-kota namun hujan masih banyak di kata-kata, dan aku tidak sempat mengangguk atau menggeleng ketika roti isi sosisku jatuh tersenggol tanganku yang diam-diam hendak meraih tangannya, dan katanya tidak perlu menggenggam tanganku untuk memilikiku, sebab hati adalah tubuh yang memiliki ribuan tangan dan mustahil bagimu untuk menggenggam seluruhnya, dan aku tidak tidak sempat membalas ucapannya dengan iya atau tidak atau mungkin saja, ketika dia sudah pergi meninggalkan selembar surat yang kubaca saat ini pukul lima pagi di atas kursi minimarket sebuah stasiun kereta kota besar, dan katanya di surat itu:

jangan menungguku, aku akan menjadi dengan orang lain di masa depan dan di masa depan aku tidak mengenalmu, sama seperti aku tidak mengenal luka yang kian tambah di kota-kota dan hujan yang makin rimbun di kata-kata.

2014